Cerita Kakek Hanif
Menjelang Maghrib, penduduk di Desa Mekar jati berduyun-duyun menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.
Arwan masih di rumah ketika teman-teman yang lainnya telah ke masjid. Ia memang selalu menunggu sahabat karibnya, Mujib. Setelah Mujib datang, mereka pun berangkat bersama-sama. Seperti biasanya, setiap habis shalat Magrib, Arwan dan Mujib ikut mengaji bersama Kakek Hanif.
“Arwan, bacaanmu kemarin sampai di mana?” tanya Kakek Hanif.
“Sampai Surat AI-Alaq, Kek!”
Kemudian, Kakek Hanif menyuruh Arwan untuk meneruskan bacaannya. Arwan yang sudah mengikuti pengajian itu selama tiga bulan, tentu saja tidak mengalami kesulitan, Bahkan, ia bisa membacakannya dengan lagu yang indah dan tajwid yang benar. Mereka membaca bergiliran. Ada yang sudah lancar seperti Arwan. Ada yang masih kaku. Bahkan, ada juga yang masih mengeja. Selain diajarkan cara membaca Alquran, mereka juga di suruh untuk menghapalkan doa-doa.
Anak-anak pengajian di masjid itu memang senang belajar dengan Kakek Hanif. Karena selain baik hati, ia juga tak suka marah-marah. Kakek Hanif pintar bercerita. Dan itulah yang menyebabkan mereka jadi lebih akrab dengan Kakek Hanif. Demikian juga dengan Kakek Hanif, ia pun tidak pernah merasa bosan.
Kakek Hanif mulai mengajar di masjid itu sejak setahun yang lalu. Ketika masjid itu baru selesai di bangun. Dan sejak itu pula banyak anak yang datang untuk shalat dan mengaji. Dan sekarang sudah banyak bekas-bekas murid Kakek Hanif yang berhasil mengamalkan ilmunya.
Mujib girang sekali ketika melihat Kakek Hanif menanggalkan pecinya. Sebab ia tahu, kalau begitu artinya Kakek Hanif sudah siap memulai ceritanya. Belum lagi ia memulai ceritanya, tiba-tiba salah seorang murid ada yang bertanya, “Kek! Istikomah, apa sih, artinya?”
“Istikomah! Istikomah artinya tetap pada pendirian sendirinya. Tidak plin-plan, Sebentar ya, sebentar tidak,” kata Kakek Hanif menjelaskan.
“Jadi, seorang muslim itu harus mempunyai pendirian yang teguh. Percaya pada diri sendiri. Tidak seperti kisah Pak Rubah yang selalu berubah-ubah pendiriannya. Eh, ngomong-ngomong, apakah kalian sudah mendengar cerita tentang Pak Rubah?” lanjutnya lagi. “Belum, Kek!” kata anak-anak serempak.
“Baiklah, kalau begitu duduk yang baik.”
Lantas Kakek Hanif pun bercerita.
“Pak Rubah adalah seorang musafir. Telah berhari-hari ia mengembara bersama anaknya dengan mengendarai seekor keledai. Rumah di kampung halamannya telah jauh ditinggalkan. Dan tempat yang dituju juga masih jauh jaraknya. Karena terlalu jauh berjalan dan tanpa istirahat, kelihatannya keledai yang mereka tunggangi mulai terasa lemah. Setelah melewati semak-semak dan belukar, Pak Rubah melewati sebuah perkampungan kecil di batas hutan. “Tibalah saatnya untuk membeli makanan dan minuman,” pikirnya.
Melihat keadaan mereka, ada penduduk kampung yang merasa kasihan. Terutama pada keledai yang ditungganginya. “Tidakkah Bapak merasa kasihan pada keledai yang Bapak tunggangi itu?” kata seorang petani yang baru pulang dari ladang ketika berpapasan dengan Pak Rubah.
Menyadari keledai tunggangannya yang tak sanggup lagi memikul beban, Pak Rubah menurunkan anaknya dan menyuruhnya berjalan di belakang. Perjalanan tetap dilanjutkan. Pak Rubah sendirian menunggang keledainya. Setelah perjalanan semakin jauh menembus hutan, anak Pak Rubah juga kecapaian. Seseorang yang melihat kejadian ini lantas menegur, “Tidakkah Bapak merasa kasihan melihat anak Bapak yang sudah tidak sanggup lagi berjalan?
Karena anaknya belum sanggup menunggang keledai sendirian, Pak Rubah pun turun. Mereka berjalan tanpa menunggang keledai. Dan Pak Rubah menggendong anaknya di pundaknya. Melihat kejadian ini, seseorang yang bertemu dengan Pak Rubah berkata, “Sungguh bodoh kalian ini, membawa keledai tunggangan tapi tidak digunakan.”
Akhirnya, karena merasa kehilangan akal, Pak Rubah pun menjual keledainya kepada orang yang menegurnya tadi. Akibatnya, Pak Rubah tidak sampai ke tujuan. Dan istrinya pun telah jauh ditinggalkan. Kini, ia dan anaknya hidup telantar di tengah rimba.”
“Nah, begitulah anak-anak, orang yang tidak punya pendirian,” kata Kakek Hanif mengakhiri ceritanya.


Tidak ada komentar